Memang program tersebut tidak serta merta langsung memunculkan wirausahawan baru. Namun, perlahan-lahan hasil positif itu sudah mulai terlihat. Belakan
Irawan mengaku, awalnya dia pernah menjadi distributor beras premium. ”Saya memasok beras ke berbagai swalayan di sekitar Bandung. Untungnya sih lumayan. Tapi, udah beberapa bulan terakhir usaha itu mulai macet,” ujarnya. Setelah itu, dia bersama dua orang rekannya membuat usaha kecil-kecilan. Berbekal sebuah ruangan di kontrakannya, Irawan membuka sebuah warung kopi. ”Dulu modalnya hanya Rp 1,7 juta satu orang,” cetus mahasiswa asal Jakarta ini.
Kemudian, setelah lama berjalan, ia mencari investor untuk membesarkan skala usahanya. Akhirnya, ia pun mendapatkan gelontoran dana sekitar Rp 400 juta dari beberapa orang investor di Jakarta. Kini, ia dan dua rekannya sudah mampu mempekerjakan sebelas orang karyawan.
Berbeda dengan Eru, mahasiswa yang ikut program kewirausahaan yang diselenggarakan oleh Unpad, membuka usaha di bidang lain, yaitu sablon mug. Bermodalkan uang bantuan dari Unpad, Eru membeli alat-alat print seadanya. Eru mengatakan bahwa, modal itu akan dikembalikan lagi ke pihak Unpad. ”Dikembalikan sih, tapi nyicil dikit-dikit,” ujar mahasiswa Sastra Jerman Fakultas Sastra Unpad ini.
Kini, usaha Eru sudah mulai dikenal oleh mahasiswa. Dia mengaku, dia dan dua orang temannya tiap bulan bisa mendapat laba yang setara dengan UMR Kota Bandung. ”Sesuai lah dengan UMR di Bandung,” ujar mahasiswa asal Padang ini. Meskipun, usaha Eru belum sebesar Irawan, namun kemandiriannya patut diteladani.
Syahdino Pratama (210110080208)
30 Mei 2010

0 komentar:
Posting Komentar